Kamis, 25 Oktober 2007

Kisah Sepatu

Sejak dibangku SMA saya menjadi seorang penggemar olahraga bola basket, berbagai kejuaraan bertaraf lokal, regional, maupun nasional pernah saya ikuti. Satu hal yang sering melekat dimata orang awam tentang penggemar bola basket, yaitu sepatu yang mahal. Saya sendiri bukan berasal dari keluarga berada yang mampu membeli sepatu berharga ratusan bahkan jutaan rupiah pada saat itu. Sewaktu SMP, sejak saya menyukai olah raga bola basket, saya hanya menggunakan sepatu dengan merk “Warrior” seharga Rp. 8.000,- sepasang, bila menggunakan sepatu ini pada saat siang hari, sangat-sangat tidak nyaman, karena sepatu menjadi terasa sangat panas.
Menginjak SMU saya mulai bisa mengenakan sepatu yang cukup mahal harganya, saya beli dari tabungan saya semasa SMP. Kala itu saya membeli sepatu Nike Air Max Basket second hand. Bila dengan harga normal dijual 350 ribu, barang second hand saya beli dengan harga 150 ribu. Dengan sepatu ini semasa SMA, saya sempat mengikuti kejuaraan nasional, dan menjuarai kejuaraan lokal dan regional. Pada saat SMU ini pula saya sempat menjadi pedagang sepatu second yang saya peroleh dari pedagang langganan saya, yang saya jual kembali dengan mengambil untung kepada teman-teman yang membutuh kan sepatu murah. Laba dari jualan sepatu, saya pergunakan untuk membeli sepatu lagi untuk saya pakai. :D
Sampai suatu ketika saya terluka cukup parah ketika latihan dan harus berhenti bermain basket selama 3-4 bulan, jari telunjuk tangan saya robek cukup lebar karena terkena benda tajam di ring hingga memerlukan 15 jahitan. Sungguh menyiksa dan sangat membuat frustasi. Dan saat itu pula mimpi-mimpi saya untuk menjadi pemain basket dan hidup dari basket berakhir, sebagian telunjuk kanan saya sampai sekarang mati rasa.
Kenyamanan, itulah yang saya cari ketika membeli segala sesuatu, termasuk sepatu. Berbagai merk pernah saya coba, Adidas, Reebok, Tomkins, kontour kaki saya yang cenderung memanjang dan langsing lebih cocok menggunakan sepatu dengan merk Nike. Mahal ? Tidak juga, kurang lebih sebanding dengan kenyamanan yang kita dapatkan, dari pada membeli sepatu dengan harga 100-200 ribu tapi tidak nyaman dan tidak awet dipergunakan.
Sampai saat ini di kamar saya tersimpan 3 buah sepatu yang masih saya pergunakan:
Nike LeBron yang saya pergunakan untuk berkendara motor, tekstur dan bahannya sangat kuat dan tebal. Sepatu ini saya beli 3 tahun lalu. Kondisinya sampai hari ini masih sangat bagus, walau sering sekali dipergunakan.

Nike Jordan 11, Sepatu ini memang sangat nyaman dan terasa sangat menyatu dengan kaki kita, sangat nyaman dipergunakan. Sepatu ini saya beli 4 tahun lalu, konon kata penjualnya sepatu ini adalah produksi tahun 99, kondisi sudah tidak begitu bagus, solnya udah ada sedikit retak-retak karena termakan usia. namun masih sangat nyaman dipergunakan.

Nike Training, Ini adalah model terbaru dari seri Trainingnya Nike, sangat nyaman dan praktis, tidak menggunakan tali, sangat nyaman dipergunakan untuk jalan-jalan atau pergi ke kantor. Saya beli sepatu ini ketika ada discount 40%, bila tanpa diskon harga sepatu ini hampir 800 ribu.

Yang pernah dipergunakan:
Nike Jordan 13, Sepatu ini sangat stylish dan elegan, tapi kurang begitu cocok bagi saya untuk dipergunakan olahraga/bermain basket lapisan sol bawahnya terasa agak tebal dan sedikit keras.

Nike Air Max Trainer 94, Inilah yang menghantarkan saya pada puncak prestasi olah raga, kokoh dan ringan. Sepatu ini saya pergunakan selama kurang lebih 3 tahun.

Sepatu memang bukan hal terpenting dalam berolahraga, tapi sepatu sangat menunjang. Tentu, semangat dan kesadaran akan hidup sehat lebih penting dalam melakukan olahraga.

by : Pupung Budi Purnama (http://pupungbp.erastica.com/)

Senin, 22 Oktober 2007

Never too late, never too old...

Saya sebenarnya menyukai olahraga ini agak terlambat yakni setelah lulus SMA. Dipastikan hobi ini tak akan menjadikan saya atlit karena skill yang bagus sebetulnya dipupuk dari muda. Walaupun begitu saya rajin ngikutin latihan di klub (berturut team yang saya ikuti latihannya yaitu Esco dan Laconiek, dua2nya di Bandung).
Kesenangan terhadap olahraga ini awalnya gara2 saya minder punya tubuh tinggi (185 cm) tapi ga bisa olahraga. Akhirnya lama-lama setelah menekuni basket, saya mulai mencinyainya.
Berikutnya saya banyak dapat teman dari basket, karena pergaulan saya memang di basket, hingga akhirnya istri pun saya kenal dari lingkungan teman basket saya. ..dan istri juga ternyata sama-sama senang olahraga ini.
Dari 93 hingga kini saya tetap mencintai basket, kalau pun ga sempat turun ke lapangan, ya pastilah tiap hari megang stik PS2, untuk mainin game NBA.
Visi saya tentang basket adalah bahwa siapapun yang main olahraga ini mesti diarahkan untuk prestasi, walapun cuma hobi. Jadi menurut saya kita harus mempersiapkan diri jadi pemenang dan harus bekerja keras untuk itu. Ga ada cerita, ada orang yang jago shooting, tanpa latihan...pokoknya kerja keras lah..dan hal ini kan ketika diaplikasikan di kehidupan nyata memang berguna. Selain itu teamwork harus diutamakan (jarang ada team yang menang dengan hanya mengandalkan kebintangan satu orang), ini pun di kehidupan nyata juga hal yang penting.
Pengalaman terbaik di basket apa ya ? Mungkin banyak nambah teman aja...
Pengalaman terburuk ? Ga ada lah...paling2 kalo pengen main di lapangan... tiba2 hujan.
Kerja keras untuk menjadi terbaik di basket dibilang ga ada..Soalnya ini cuma hobi saya. Paling lari dan angkat2 berat sedikit :).
Sampe kapan akan senang basket ? Mungkin ga ada akhirnya...saya pernah bermain di Bogor dengan sebuah team manula (umur 60-70an), saat itu saya benar2 kagum akan kecintaan mereka terhadap olahraga ini...hingga akhirnya saya memutuskan, cinta saya pada olahraga basket pasti ga akan berakhir gitu aja...pokoknya saya pengen seperti mereka di saat tua nanti.

by : Roffi Grandiosa (http://roffi.akuatika.net/)

Jumat, 19 Oktober 2007

Glory Road

El Paso, Texas, pada sekitar tahun 1966. Waktu itu, seorang pelatihbasket bernama Don Haskins baru saja diminta untuk melatih tim basketTexas Western Miners. Dalam melatih dan menyusun para pemain dalamtim basket kampus ini, Haskins melakukan strategi yang saat itu sangatberani, yaitu menggabungkan para pemain kulit hitam dengan kulitputih. Tercatat 7 orang pemain kulit hitam dan 5 orang kulit putihyang terpilih menjadi pemain inti tim tersebut. Dalam melatih,Haskins selalu menerapkan disiplin tinggi tanpa memandang warna kulit.Toh, situasi saat itu dimana rasialisme masih begitu kental diwilayah selatan Amerika, membuat tampilnya para pemain basket berkulithitam menjadikan cemoohan bagi sebagian besar penduduk Texas yangberkulit putih. Namun, Haskins pantang menyerah. Akhirnya kompetisiNCAA pun digelar. Lawan demi lawan pun berhasil dikalahkan olehMiners, namun hal ini membuat iri klub basket lain yang beranggotakankulit putih, teror pun didapat oleh para pemain Miners, begitu jugahalnya pada Haskins dan keluarganya. Sempat semangat para pemainMiners pupus tatkala semakin banyak rintangan yang mereka hadapi,namun Haskins selalu memberi semangat pada anak didiknya untuk pantangmenyerah. Puncaknya ketika tim mereka harus berhadapan dengan timdari Universitas Kentucky yang dilatih oleh seorang pelatihprofesional, Adolph Rupp. Inilah saatnya bagi tim Miners membuktikansiapa sebenarnya juara sejati, lalu dapatkah Haskins bersama timnyamerebut juara nasional bola basket Amerika...

Diambil dari www.gsn-soeki.com/wouw